Tampilkan postingan dengan label Ismuba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ismuba. Tampilkan semua postingan

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada Rasul kita, Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, juga kepada keluarga dan sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik.

Zaman ini, ketika sudah banyak fitnah melanda negeri. Kebodohan tentang agama dimana-mana. Bahkan di luar sana masih banyak yang belum paham tentang tata cara-tata cara ibadah yang sesuai Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Banyak orang yang tidak tau apa yang harus dilakukan ketika tertimpa musibah dan ketika diberi nikmat, banyak orang tidak tahu untuk siapa sebenarnya rasa takut, harap, dan cinta yang sebenarnya itu diperuntukkan. Maka inilah pentingnya ilmu agama.

Tersebarnya Fitnah Kebodohan
 Munculnya fitnah merupakan kehendak kauniyah dari Allah Rabbul ‘Alamin, yang di baliknya terdapat hikmah-hikmah yang agung. Di antaranya, Allah ingin menguji sebagian manusia dengan sebagian lainnya agar diketahui orang yang beriman dari orang yang binasa, karena dengan ujianlah seorang hamba dapat menjadikan sabar, ridho dan syukur sebagai penghambaan dengan kedudukan yang paling tinggi kepada Allah –‘Azza wa Jalla-. Allah berfirman,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَ لَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَالْجِنَّةِ وَ
النَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Kalaulah Rabb-mu menghendaki, Ia akan menjadikan manusia satu umat, namun mereka akan senantiasa berselisih. Kecuali orang yang dirahmati oleh Rabb-mu, untuk itulah Allah menciptakan mereka, dan telah sempurna kalimat Rabb-mu bahwa sesungguhnya Aku benar-benar akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia semuanya.” (QS. Huud (11) : 118 – 119)
Dan diantara sebab-sebab munculnya fitnah adalah tersebarnya kebodohan dalam agama. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wassalam-, bersabda,

إِنَّاللَّهَ لاَيَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama, sehingga apabila ulama tidak tersisa lagi, orang-orang akan mengambil pemimpin-pemimpin (agama) yang bodoh, mereka ditanyai lalu berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan” (HR Bukhori dan Muslim)

Ketika ilmu itu dicabut, maka tidak ada tempat untuk orang yang ingin menanyakan sesuatu dalam masalah agamanya kecuali kepada orang-orang yang bodoh, yang mereka tidak mempunyai ilmu, dan tidak bisa berfatwa kecuali berasal dari hawa nafsu dan akal mereka saja, dan ketahuilah akal dan hawa nafsu manusia itu lebih condong kepada keburukan. Dan dengan hawa nafsulah terjadinya pembunuhan yang pertama kali terjadi di muka bumi ini. Allah –subhanahu wa ta’alaa– berfirman,

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi”. (QS. Al Maidah: 30)
Dan karena kebodohan pulalah terjadinya kesombongan dan kedurhakaan terbesar seorang hamba terhadap Rabb-nya terjadi, sebagaimana iblis yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam dikarenakan kesombongannya yang diakibatkan oleh kebodohannya, Allah berfirman dalam kitab-Nya,

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Allah berfirman:’Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) pada waktu Aku memerintahkanmu?’ Iblis menjawab: ‘Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api sedang ia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf: 12)

Iblis melihat dirinya lebih mulia daripada Adam sehingga ia menolak bersujud kepadanya, padahal ada perintah langsung dari Allah –subhanahu wa ta’alaa– kepadanya dan kepada seluruh Malaikat. Iblis tidak tahu bahwa tanah lebih baik dari api dalam semua hal, diantaranya adalah api membakar sedangkan tanah membangun, sifat api panas sedangkan sifat tanah dingin. Hingga akhirnya dengan kebodohan itu seseorang menjadi durhaka dan enggan menjalankan perintah Allah.

Ilmu Menghilangkan Kebodohan
Saudariku, yang semoga Allah istiqomahkan kita di atas jalan-Nya yang lurus, kebodohan tidaklah menghasilkan sesuatu selain keburukan, dan ilmu adalah sesuatu yang dapat menghilangkan itu semua. Allah menjanjikan kepada hamba-Nya yang berilmu untuk ditinggikan derajatnya dibanding dengan orang yang tidak berilmu. Allah –subhanahu wa ta’alaa- berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُواالْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadillah : 11)

Sebagaimana Nabi Adam –‘alaihissalam– diangkat menjadi khaliifah di muka bumi, dikarenakan dia mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh golongan malaikat dan jin. Allah berfirman,

وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْكُنْتُمْ صَادِقِينَ  قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.’ Mereka menjawab: ’Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’”. (QS Al Baqarah : 31-32)

Dan dengan ilmu, Allah mengangkat derajat para Nabi. Nabi Sulaiman dengan ilmu bahasa hewannya. Nabi Yusuf dengan ilmu takwil mimpi yang Allah anugrahkan kepadanya, maka ia pun diangkat menjadi pejabat kerajaan. Dan kisah perjuangan Nabi Musa dalam mencari ilmu kepada Khidr, Nabi Dawud, Nabi Isa -‘alayhumussalam- dan Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diberikan mukjizat berupa kitab-kitab suci yang tak lain isinya adalah ilmu.

Ilmu itu Cahaya
Dan Ibnul Qoyyim –rahimahullah- mengatakan, “Sesungguhnya ilmu adalah kehidupan dan cahaya. Sedangkan, kebodohan adalah kematian dan kegelapan. Semua keburukan penyebabnya adalah tidak adanya kehidupan (hati) dan cahaya. Semua kebaikan sebabnya adalah cahaya dan kehidupan (hati). Sebaliknya, kebodohan dan keburukan yang disebabkan oleh kematian hati dan tidak takutnya kepada yang buruk. Ini seperti kehidupan di mana hujan adalah sebab kehidupan segala sesuatu. Allah berfirman,

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْشَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَ لَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang becahaya seperti mutiara yang dinyalakan di dalamnya dengan minyak dan pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah (barat)nya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (belapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. an-Nuur: 35)

Dan buah dari ilmu adalah cahaya, yang dengan cahaya itu Allah menerangi kita kepada jalan-Nya yang lurus, jalan yang menuntun kita kepada kebahagiaan iman dan Islam. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R Muslim)

Maka dari itu, wahai Saudariku, yang semoga Allah selalu merahmati kalian, di mana pun kalian berada, jadilah pencari cahaya. Penuhilah majelis-majelis ilmu yang banyak disebut nama Allah di dalamnya dan yang dengan ilmu itu, insyaaAllah akan kita dapatkan cahaya yang menuntut kita kepada jalan keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
————————————————————————————————-
Referensi:
Al Ushuluts Tsalaatsah, karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
Panduan Hidup di Akhir Zaman, karya Abu Yahya Badru Salam, Lc.
Yang Aku Khawatirkan atas Umatku, karya Abu Yahya Badru Salam, Lc.
Shohiih Qishoshil Anbiyaa’, karya Al Hafizh Ibnu Katsir
Miftahu daaris Sa’aadah, karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah
Untukmu yang Berjiwa Hanif, karya Armen Halim Naro
Kaifa Tatahammas fi Thalabil Ilmisy Syar’i. karya Abul Qa’qa’ Muhammad bin Sholih Alu Abdillah
 
Penulis: Triani Pradina
Murojaah: Ammi Nur Baits
Artikel muslimah.or.id

Azaki Khoirudin


Azaki Khoirudin
Koran SINDO (Sabtu, 8 Agustus 2015)


PERHELATAN akbar lima tahunan Muktamar Ke- 47 Makasar sudah selesai kemarin. Pada muktamar kali ini Muhammadiyah membawa ide “Islam Berkemajuan” dan tegaskan dirinya sebagai “Gerakan Pencerahan”. Artinya, jati diri Muhammadiyah lekat sekali antara “Islam” dan “kemajuan”. Tema ini begitu berat, sangat relevan dengan kondisi bangsa, bahkan dunia saat ini. Untuk mematangkan gagasan tersebut, Prof Din Syamsuddin mengadakan “Silatul Fikri” di Puncak Bogor, 24-26Juli2015. Kegiatandiikuti 60 intelektual Muhammadiyah dari berbagai bidang keilmuan.
Dalam pembahasan “Islam Berkemajuan”, yang menjadi tolok ukur utama adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks). Tetapi, berbasis pada pemahaman Islam. Pertanyaannya, mampukah pendidikan Muhammadiyah menjawab tantangan tersebut? Tampaknya, gerakan dari warga dan aktivis Muhammadiyah pada Muktamar Makasar ingin menyukseskan Majelis Pesantren.
Padahal, kita tahu semua selama ini Muhammadiyah bergelut di dunia pendidikan, terutama sekolah dan universitas. Hal ini disinyalir gejala krisis ulama ditubuh Muhammadiyah. Makanya, Muhammadiyah mulai melirik pesantren dan perlu penguatan kaderisasi ulama.
Ijtihad Pesantren Muhammadiyah 
Sudah menjadi ciri khas Muhammadiyah yang fokus di dunia pendidikan, terutama sekolah. Selama ini pesantren Muhammadiyah yang terkenal adalah Madrasah Muallimin dan Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta. Pesantren ini merupakan pesantren awal yang dimiliki Muhammadiyah.
Dalam kaderisasi ulama, Muhammadiyah memiliki Pondok Hj Nuriyah Shabran di Surakarta, Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah di Yogyakarta dan Malang. Seabad berselang, Muhammadiyah berijtihad kembali di dunia pesantren. Jelang seabad, Muhammadiyah berijtihad mendirikan Muhammadiyah Boarding School (MBS) di Prambanan, Sleman.
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah kini melahirkan Trensains sebagai revolusi pesantren berkemajuan. Trensains adalah kependekan dari “Pesantren Sains” yang merupakan sintetis dari pesantren dan sekolah umum. Trensains merupakan lembaga pendidikan setingkat SMA. Proyek baru di Indonesia, bahkan mungkin di dunia Islam. Pesantren yang fokus mengkaji dan meneliti ayat-ayat semesta Alquran.
Kata Trensains bermakna mengetren kan pesantren ke masyarakat, juga berarti sains menjadi tren masyarakat hari ini. Kreator lahirnya Trensains adalah Agus Purwanto D Sc (Saintis Fisika Teori alumnus Universitas Hirosima Jepang). Program Trensains pertama telah berdiri di Sragen, Jawa Tengah dengan nama SMA Trensains DIMSA (Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen) yang di-launching pada 1 Muharam 1435 H/ 5 November 2013 oleh PP Muhammadiyah.
Kini Trensains menjadi megaproyek Muhammadiyah abad kedua. Uniknya, program ini juga dibuka di Pesantren Tebuireng Jombang yang notabene milik NU atas pemintaan Sholahuddin Wahid (Gus Sholah). Ini menandakan bahwa Muhammadiyah sangat terbuka melakukan kerja sama dengan pihak mana pun, dan pengembangan pendidikan bersifat rahmatan lil `alamin.
Trensains hadir di tengah keadaan umat dan para ulama yang terlalu banyak menyita waktu untuk membahas persoalan fikih. Umat lalai atas fenomena alam. Abai terhadap ayat kauniah yang jumlahnya lima kali lipat dari ayat kauliah. Sains seolah-olah tidak terkait dan tidak mengantar orang Islam ke surga.
Tanpa sains dan teknologi umat Islam akan jatuh dan tersungkur ke buritan peradaban. Trensains berbeda dengan “pondok pesantren modern”. Trensains tidak menggabungkan materi pesantren dan ilmu umum sebagaimana “ponpes modern”. Materi khas Trensains dan tidak ada dalam ponpes modern.
Trensains memiliki visi, “Lahirnya generasi yang memegang teguh Alquran dan Sunah, mencintai dan mengembangkan sains, dan mempunyai kedalaman filosofis serta keluhuran akhlak.” Di sini pula spirit Islam berkemajuan abad kedua dan pentingnya pesantren ala Muhammadiyah.
Urgensi Majelis Pesantren 
Setelah sukses dengan pembukaan di Lapangan Karebosi, yang dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Muktamar dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban kepemimpinan selama satu periode (2010- 2015) dan dilanjutkan sidang komisi.
Dalam sidang komisi inilah mulai dibahas pemikiranpemikiran besar dan programprogram Muhammadiyah ke depan. Setiap ide dan gagasan, tanpa lembaga, tak akan bisa direalisasikan dengan baik. Perlahan akan menguap, dan hilang ditelan zaman. Begitupula pelbagai model pesantren Muhammadiyah.
Perkembangan model-model pesantren Muhammadiyah harus diatur dalam lembaga khusus. Karena mengurus sekolah, perguruan tinggi itu, berbeda dengan mengurus pesantren. Pondok pesantren Muhammadiyah menjamur di seluruh Nusantara mendorong solidaritas terbentuknya Perhimpunan Pondok Pesantren Muhammadiyah (Ittihadul MaIttihadul Maahid al-Muhammadiyah ) disingkat dengan ITMAM.
Muhammadiyah harus turut ikut memikirkan nasib pesantren Nusantara serta bagaimana cara pesantren yang melahirkan ulama berkemajuan. Merujuk pada Karel A Steembrink bahwa sistem pesantren tradisional selama ini terdiri lima elemen pokok yaitu kiai, santri, masjid, pondok, dan kitab-kitab klasik.
Akan tetapi, kelemahan pesantren hari ini terletak pada segi metodologi tradisional, terlalu menekankan fikih, dan minim ilmu umum. Dari segi manajemen pesantren banyak kelemahan. Zamahkhsyari Dhofier menyebut pesantren seperti kerajaan kecil. Kiai merupakan sumber mutlak, kekuasaan dan kewenangan kehidupan pesantren, termasuk ke mana arah, visi, dan tujuan.
Padahal, kiai memiliki keterbatasan dan kekurangan. Metode yang digunakan pesantren yang digunakan kiai telah abai pada aspek kognitif. Selain itu, aspek kurikulum pesantren juga mengalami penyempitan, pelajaran agama masih dominan di lingkungan pesantren. Tasawuf sebagai inti keagamaan terabaikan. Padahal, di era masyarakat modern, religiusitas sangat dibutuhkan.
Di sinilah Muhammadiyah harus ambil bagian. Atas dasar itu, dalam Silaturahim Nasional (Silatnas ITMAM), 8-10 Mei 2015 di PondokPesantrenImamSuhodo, ternyata Muhammadiyah memiliki 180 pondok pesantren. Silatnas ITMAM merekomendasikan agar Muktamar Ke-47 di Makassar dapat memutuskan berdirinya Majelis Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Dikdintren).
Tampaknya persiapan pendirian Majelis Pesantren semakin matang pada muktamar kali ini. Sebagai ormas dakwah, pendidikan Muhammadiyah harus kembangkan pondok pesantren. Jika tidak, Muhammadiyah akan kehilangan elan vital-nya sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid.
Dengan kata lain, lembaga pendidikan pondok pesantren bisa diandalkan untuk memecahkan masalah krisis ulama dan ilmuwan Muhammadiyah. Maka, pendirian Majelis Pesantren adalah sebuah keniscayaan sejarah.
Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat IPM, Alumni Pendidikan Kader Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran UMS