Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan




PACARAN, manis terdengar. Indah terucap, tapi hati-hati bisa mengakibatkan kehamilan.  Omaygat! Ummm. .....

Memang betul sih, pacaran belum tentu berujung pada perzinaan. Tapi perzinaan itu sudah pasti berawal dari pacaran.
Pacaran adalah aktivitas antara perempuan dan laki-laki yang bukan mahram, atau halal untuk dinikahi.

Aktivitasnya apa saja ya? Mulai dari jadian, nge-date, jalan berdua, beraktivitas yang serba berdua (seakan dunia milik mereka berdua, yang lain ngontrak hehe), pegangan tangan, suap-suapan, nonton bareng, cium tangan, cium pipi, cium sana-sini, pegang ini, pegang itu. Hingga berujung pada perzinaan. Naudzubillah.

Apa yang dihasilkan? Aborsi, putus sekolah, dan lain-lain. Naudzubillah.
Nah, itulah aktivitas dalam pacaran dari yang paling ringan sampai terparah. Ngeri kan?
Jatuh cinta merupakan fitrah dari Allah swt yang diberikan kepada setiap manusia. Jadi kalo kalian jatuh cinta, itu jelas ga salah karena itu sebuah fitrah.

Yang perlu kita perhatikan adalah cara menyalurkan dan  mencurahkan rasa cinta kita kepada seseorang (khususnya lawan jenis). Karena di dalam Islam jelaslah itu semua di atur. Mulai dari urusan pakaian, jual beli,  pendidikan, ekonomi, politik bahkan hal yang dianggap enteng oleh kebanyakan yaitu interaksi dengan lawan jenis.

Allah perintah jauhi aktivitas pacaran melalui surat cintanya yang tertulis dalam surat Al-isra ayat 32, yang berbunyi:
“Dan janganlah mendekati zina, sesungguhnya itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”.

Aktivitas dalam pacaran adalah sesuatu yang sia-sia, yang jelas Allah benci. Di dalamnya penuh kemaksiatan, berdua-duan (khalwat), aktivitasnya tidak jauh dari perbuatan yang sia-sia.
Karena begitulah alamiahnya pacaran atau bahkan semua perbuatan maksiat lainnya, bisa mengakibatkan sengsara.

Bayangkan setiap kita bermaksiat dalam aktivitas pacaran, kita menabung dosa, sungguh berbanding terbalik dengan aktivitas yang sama tetapi dilakukan pasca menikah, segalanya berbuah pahala.
Enak apa enak? Hayo pilih yang mana? Dan kelak semua itu akan dipertanggungjawabkan lho di hadapan-Nya.

Tidak ada pacaran yang aman, mau LDR, mau adik-kakak, mau disetujui ortu, yang sudah jelas dilarang Allah pasti akan menyebabkan musibah bila masih terus dijalani.
Yuk ah pilih yang jelas halal saja, pernikahan. []

 Oleh: Siti Sa’adah, S.Pd, Saadahwaqash@gmail.com

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada Rasul kita, Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, juga kepada keluarga dan sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik.

Zaman ini, ketika sudah banyak fitnah melanda negeri. Kebodohan tentang agama dimana-mana. Bahkan di luar sana masih banyak yang belum paham tentang tata cara-tata cara ibadah yang sesuai Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Banyak orang yang tidak tau apa yang harus dilakukan ketika tertimpa musibah dan ketika diberi nikmat, banyak orang tidak tahu untuk siapa sebenarnya rasa takut, harap, dan cinta yang sebenarnya itu diperuntukkan. Maka inilah pentingnya ilmu agama.

Tersebarnya Fitnah Kebodohan
 Munculnya fitnah merupakan kehendak kauniyah dari Allah Rabbul ‘Alamin, yang di baliknya terdapat hikmah-hikmah yang agung. Di antaranya, Allah ingin menguji sebagian manusia dengan sebagian lainnya agar diketahui orang yang beriman dari orang yang binasa, karena dengan ujianlah seorang hamba dapat menjadikan sabar, ridho dan syukur sebagai penghambaan dengan kedudukan yang paling tinggi kepada Allah –‘Azza wa Jalla-. Allah berfirman,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَ لَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَالْجِنَّةِ وَ
النَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Kalaulah Rabb-mu menghendaki, Ia akan menjadikan manusia satu umat, namun mereka akan senantiasa berselisih. Kecuali orang yang dirahmati oleh Rabb-mu, untuk itulah Allah menciptakan mereka, dan telah sempurna kalimat Rabb-mu bahwa sesungguhnya Aku benar-benar akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia semuanya.” (QS. Huud (11) : 118 – 119)
Dan diantara sebab-sebab munculnya fitnah adalah tersebarnya kebodohan dalam agama. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wassalam-, bersabda,

إِنَّاللَّهَ لاَيَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama, sehingga apabila ulama tidak tersisa lagi, orang-orang akan mengambil pemimpin-pemimpin (agama) yang bodoh, mereka ditanyai lalu berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan” (HR Bukhori dan Muslim)

Ketika ilmu itu dicabut, maka tidak ada tempat untuk orang yang ingin menanyakan sesuatu dalam masalah agamanya kecuali kepada orang-orang yang bodoh, yang mereka tidak mempunyai ilmu, dan tidak bisa berfatwa kecuali berasal dari hawa nafsu dan akal mereka saja, dan ketahuilah akal dan hawa nafsu manusia itu lebih condong kepada keburukan. Dan dengan hawa nafsulah terjadinya pembunuhan yang pertama kali terjadi di muka bumi ini. Allah –subhanahu wa ta’alaa– berfirman,

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi”. (QS. Al Maidah: 30)
Dan karena kebodohan pulalah terjadinya kesombongan dan kedurhakaan terbesar seorang hamba terhadap Rabb-nya terjadi, sebagaimana iblis yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam dikarenakan kesombongannya yang diakibatkan oleh kebodohannya, Allah berfirman dalam kitab-Nya,

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Allah berfirman:’Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) pada waktu Aku memerintahkanmu?’ Iblis menjawab: ‘Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api sedang ia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A’raf: 12)

Iblis melihat dirinya lebih mulia daripada Adam sehingga ia menolak bersujud kepadanya, padahal ada perintah langsung dari Allah –subhanahu wa ta’alaa– kepadanya dan kepada seluruh Malaikat. Iblis tidak tahu bahwa tanah lebih baik dari api dalam semua hal, diantaranya adalah api membakar sedangkan tanah membangun, sifat api panas sedangkan sifat tanah dingin. Hingga akhirnya dengan kebodohan itu seseorang menjadi durhaka dan enggan menjalankan perintah Allah.

Ilmu Menghilangkan Kebodohan
Saudariku, yang semoga Allah istiqomahkan kita di atas jalan-Nya yang lurus, kebodohan tidaklah menghasilkan sesuatu selain keburukan, dan ilmu adalah sesuatu yang dapat menghilangkan itu semua. Allah menjanjikan kepada hamba-Nya yang berilmu untuk ditinggikan derajatnya dibanding dengan orang yang tidak berilmu. Allah –subhanahu wa ta’alaa- berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُواالْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadillah : 11)

Sebagaimana Nabi Adam –‘alaihissalam– diangkat menjadi khaliifah di muka bumi, dikarenakan dia mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh golongan malaikat dan jin. Allah berfirman,

وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْكُنْتُمْ صَادِقِينَ  قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.’ Mereka menjawab: ’Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’”. (QS Al Baqarah : 31-32)

Dan dengan ilmu, Allah mengangkat derajat para Nabi. Nabi Sulaiman dengan ilmu bahasa hewannya. Nabi Yusuf dengan ilmu takwil mimpi yang Allah anugrahkan kepadanya, maka ia pun diangkat menjadi pejabat kerajaan. Dan kisah perjuangan Nabi Musa dalam mencari ilmu kepada Khidr, Nabi Dawud, Nabi Isa -‘alayhumussalam- dan Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diberikan mukjizat berupa kitab-kitab suci yang tak lain isinya adalah ilmu.

Ilmu itu Cahaya
Dan Ibnul Qoyyim –rahimahullah- mengatakan, “Sesungguhnya ilmu adalah kehidupan dan cahaya. Sedangkan, kebodohan adalah kematian dan kegelapan. Semua keburukan penyebabnya adalah tidak adanya kehidupan (hati) dan cahaya. Semua kebaikan sebabnya adalah cahaya dan kehidupan (hati). Sebaliknya, kebodohan dan keburukan yang disebabkan oleh kematian hati dan tidak takutnya kepada yang buruk. Ini seperti kehidupan di mana hujan adalah sebab kehidupan segala sesuatu. Allah berfirman,

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْشَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَ لَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang becahaya seperti mutiara yang dinyalakan di dalamnya dengan minyak dan pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah (barat)nya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (belapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. an-Nuur: 35)

Dan buah dari ilmu adalah cahaya, yang dengan cahaya itu Allah menerangi kita kepada jalan-Nya yang lurus, jalan yang menuntun kita kepada kebahagiaan iman dan Islam. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R Muslim)

Maka dari itu, wahai Saudariku, yang semoga Allah selalu merahmati kalian, di mana pun kalian berada, jadilah pencari cahaya. Penuhilah majelis-majelis ilmu yang banyak disebut nama Allah di dalamnya dan yang dengan ilmu itu, insyaaAllah akan kita dapatkan cahaya yang menuntut kita kepada jalan keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
————————————————————————————————-
Referensi:
Al Ushuluts Tsalaatsah, karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
Panduan Hidup di Akhir Zaman, karya Abu Yahya Badru Salam, Lc.
Yang Aku Khawatirkan atas Umatku, karya Abu Yahya Badru Salam, Lc.
Shohiih Qishoshil Anbiyaa’, karya Al Hafizh Ibnu Katsir
Miftahu daaris Sa’aadah, karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah
Untukmu yang Berjiwa Hanif, karya Armen Halim Naro
Kaifa Tatahammas fi Thalabil Ilmisy Syar’i. karya Abul Qa’qa’ Muhammad bin Sholih Alu Abdillah
 
Penulis: Triani Pradina
Murojaah: Ammi Nur Baits
Artikel muslimah.or.id

Bom Molotov meledak di Samarinda. Kota penyelenggara Muktamar ke-20 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (14 November-16 November 2016). Ledakan bom itu merengut nyawa Intan Olivia Marbun. Hastag #RIPIntan pun menjadi trending topic twitter pada 14 November 2016. Bocah 2,5 tahun itu menjadi korban ledakan bom Molotov di gereja Oikumene, Samarinda, Minggu, 13 November pagi.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa pelaku bom itu bernama Juhada alias Jo. Ia adalah residivis aksi teror kelompok radikal. Konon Jo terkait dengan kelompok Jamaah Anshorut Tauhid (JAT). Polisi pun juga telah menangkap lima terduga pelaku peladakan bom.
Ledakan bom yang kembali menyeruak di tengah kegaduhan Ibu Kota seakan menimbulkan tanda tanya. Mengapa perilaku kebencian ini terus tumbuh di Indonesia. Bagaimana IPM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah berperan serta dalam mengurai masalah itu?
Kemanusiaan
Radikalisme merupakan wajah buram kemanusiaan. Radikalisme yang berujung pada rasa benci dan meniadakan kelompok tertentu dengan berbagai cara menjadi musuh keadaban. Kebencian atas nama apapun bukan pilihan bijak. Kebencian hanya akan menutup mata hati. Saat mata hati tertutup maka kebenaran akan sirna. Saat itulah dunia akan chaostic (ricuh). Pasalnya, dunia tanpa kompas pemandu. Dunia dalam keadaan limbung karena manusiannya sudah tidak lagi menjadi seorang pemimpin (khalifah).
Mengembalikan kemanusiaan utama seakan menjadi mantra untuk “melawan” radikalisme. Kemanusiaan menjadi kata kunci dalam membentuk dan membangun kembali semangat kebersamaan dan persatuan. Kita diciptakan berbeda, bukan untuk saling mencela. Namun, untuk saling menguatkan satu sama lain. Persatuan inilah yang dapat menjadi penguat kebangsaan yang kini kian rapuh.
Dalam kondisi yang demikian, bagaimana posisi IPM berkontribusi? IPM yang banyak bergerak membina generasi muda (12-18 tahun), mempunya peran signifikan dalam proses kemanusiaan. IPM mendedikasikan diri sebagai organisasi kepemudaan literet dapat memulai dengan membangun kesadaran. Artinya, spirit literasi yang selama ini menjadi fokus garapan utama IPM dapat membekali anak muda agar tidak terjerumus pada radikalisme.
Radikalisme perlu dilawan dengan cara beradab. Yaitu, pembinaan pemahaman diri dan lingkungan yang paripurna. Artinya, IPM sebagai peer groups (teman sebaya), mempunyai tanggung jawab moral menjadikan seorang anak muda mempunyai jiwa keterbukaan. Mereka mau memberikan kritik dan mendapatkan kritik. Kritisisme inilah yang akan mendorong seseorang menjadi “melek”. Mereka tidak mudah menerima begitu saja gagasan yang dibawa orang lain. Setiap gagasan orang lain perlu dicermati sehingga yang muncul adalah tindakan nyata, bukan taqlid (sekadar ikut-ikutan).
Pembinaan ini akan efektif saat seseorang masih tergolong muda (usia belia). Pemahaman yang utuh tentang diri, lingkungan, dan kebangsaan ini dapat disemai sejak bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Generasi Damai
IPM  sebagai organisasi utama di sekolah-sekolah Muhammadiyah merupakan benteng bagi terciptanya kader damai (peacefull). Kader damai ini tidak hanya sekadar juru bicara organisasi induk (Muhammadiyah), namun menjadi pelopor kehidupan beragama yang sehat.
Kader IPM perlu mengembangkan jejaring organisasi ke sekolah-sekolah negeri. Pasalnya, menurut beberapa penelitian, sekolah negeri seringkali menjadi ruang bebas masuknya “paham radikal” dalam diri siswa.
IPM perlu resah saat banyak teman sebaya terjebak dalam pemahaman yang “tidak benar”. Mereka perlu dikembalikan pada jalan yang lurus. Yaitu, jalan orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan kenikmatan. Proses itu mewujud dalam kelompok diskusi literasi sebagai corong utama.
Gerakan literasi di sekolah merupakan ujung tombak terwujudnya generasi damai. Generasi yang senantisa menyebarkan cinta dan bertindak atas nama cinta. Saat pemuda mempunyai spirit cinta, maka radikalisme akan hilang dengan sendirinya. Pasalnya, cintalah yang akan membentuk paradigma berpikir dan bertindak atas nama kemanusiaan paripurna. Mereka senantisa menganggap orang lain sebagai saudara. Saudara yang patut untuk dilindungi harkat dan martabatnya. Saudara yang saat sakit, ia merasakan kondisi yang sama. Alangkah indahnya dunia ini saat setiap orang, yang dipelopori generasi muda mampu mewujudkan hal itu.
Masuk Sekolah Negeri
Oleh karena itu, tantangan IPM saat ini kian berat. IPM memanggul amanat umat menjadikan generasi muda bangsa melek tantangan zaman. Salah satunya adalah masalah radikalisme yang kini telah menjangkiti generasi muda.
IPM perlu segera masuk dan mengembangkan sayap organisasi ke sekolah negeri. Pasalnya, sekolah negeri perlu sentuhan literasi ala IPM. IPM perlu menyakinkan pengelola sekolah bahwa keberadaan IPM akan membekali siswa menjadi lebih baik. Sekolah negeri pun perlu membuka ruang bagi IPM berkembang, agar pemahaman keagamaan menjadi inklusif.
Saat gerakan IPM mampu mewarnai pemikiran serta tidakan generasi muda, maka tugas kemanusiaan ini telah ditunaikan secara baik. Organisasi ini akan tegak sebagaimana jargon “nun wal qalami wa ma yasturun” (Demi pena, dan apa yang tertulis dengannya). Selamat Muktamar IPM.
*)Benni  Setiawan, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, Anggota Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
< Sw >

Moratorium Ujian Nasional (UN) masih menjadi polemik.  Hal ini dikarenakan usulan moratorium UN Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy diminta untuk mengkaji ulang oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (7/12/2016). Jusuf Kalla menilai ada pemikiran terbalik terhadap moratorium UN pada 2017.
Menurut Muhadjir pilihan ganda hanya mendeteksi tiga tingkat kemampuan siswa, yaitu mengenal, menghafal, dan mengaplikasikan yang dikenal dan dihafal. Namun, belum sampai pada kemampuan berpikir kritis, inovatif, mencipta dengan daya kreatif. Bagi Muhadjir pilihan ganda tidak tepat dijadikan metode evaluasi UN (6/12/2016).

Gagasan Mendikbud perlu diapresiasi dan didukung oleh para ahli pendidikan dan praktisi pendidikan. Menteri Muhadjir telah melakukan tobosan kebijakan revolusi mental dengan mengahiri “pendidikan gaya bank” yang selama ini diterapkan di Indonesia. Siswa hanya menghafal materi pelajaran bahkan jawaban. Seakan-akan siswa dipandang sebagai safe deposit box, di mana pengetahuan dari ditransfer ke dalam otak siswa. Apabila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal dikeluarkan pada saat ujian.

Selama ini, siswa diposisikan sebagai objek. Hal ini merupakan praktek atau wujud dari dehumanisasi yang bertentangan dengan hakikat pendidikan. Ujian Nasional merupakan kebijakan yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi. Dehumanisasi menyebabkan siswa tercerabut dari akar-akar budaya bangsa Indonesia. Akibatnya, siswa tidak mengenal jati diri bangsa dan karakter yang lahir dari nilai luhur Pancasila.

Menurut Paulo Freire pendidikan adalah ‘proses memanusiakan manusia kembali manusia. Freire menjelaskan proses dehumanisasi tersebut dengan menganalisis entang kesadaran atau pandangan hidup masyarakat terhadap diri mereka sendiri. Freire menggolongan kesadaran manusia menjadi: kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naif (naival consciousness) dan kesadaran kritis (critical consciousness).

Dalam kesadaran magis, yakni suatu kesadaran siswa yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya tidak bisa melihat kaitan kebodohan dengan sistem kebudayaan. Sehingga pendidik dan siswa menyikapi UN dengan do’a-doa atau ritual khusus untuk menghadapi UN, karena khawatir tidak lulus. Namun, hal ini sudah direspons oleh Mendikbud Anies Baswedan dengan menjadikan UN hanya sebagai pemetaan, bukan penentu kelulusan.

Berbeda dengan kesadaran naif melihat siswa menjadi akar penyebab masalah pendidikan. Dalam kesadaran ini ‘masalah etika, kreativitas, ‘need for achievement’ dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Jadi dalam menganalisis Moratorium Ujian Nasional, bagi Wakil Presiden disebabkan karena siswa. Sehingga muncul anggapan UN harus dipertahankan, karena jika tidak ada UN ditakukatkan “tidak ada motivasi belajar”. Dalam konteks ini Wakil Presiden adalah naif. Karena melihat siswa sebagai masalah yang harus disiplinkan.
Terahir, dalam perspektif kritis lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Artinya yang harus ditinjau adalah sistem UN masih relevan atau tidak terhadap problem dan visi pendidikan nasional. Sebenarnya langkah Kemendikbud sudah tepat dengan menghapus UN yang tidak berpihak kepada kepantingan pelajar. Justru Mendikbud sepertinya memahami betul visi Presiden Jokowi dengan gagasan revolusi mentalnya.

Gagasan revolusi mental, tak akan tercapai tanpa revolusi paradigma pendidikan. Karena itu pendidikan gaya bank, harus segera diakhiri. Di globalisasi dan revolusi ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi ini, siswa harus dibekali pola pikir kritis. Sehingga siswa mampu mengaitkan antara ilmu pengetahuan dengan struktur serta sistim sosial, politik, ekonomi dan budaya dan akibatnya pada keadaaan masyarakat. Maka pendidikan yang mangajarkan siswa berpikir hitam-putih, benar-salah, melalui pilihan ganda harus segera dihapuskan dari sistem pendidikan nasional.

Dalam perspektif pendidikan kritis Paulo Freire, tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistim dan sruktur ketidakadilan. Siswa harus diajarkan berpikir kreatif, kritis dan bebas, sehingga manjadi pencipta (creator) kreatif. Bukan penghafal pengetahuan, tetapi pencipta dan pengembang ilmu pengetahuan. Pendidikan harus mampu menciptakan ruang pelajar untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis apa penyebab dari masalah yang ada di lingkungan. Semoga dengan adanya moratorium UN ini menjadikan gagasan revolusi mental semakin membumi di bumi pertiwi.
*) Penulis adalah Azaki Khoirudin, Sekretaris Jenderal PP IPM 2014-2016
< Sw >

Rhenald Kasali
Polemik, yang kalau disampaikan dengan baik terbuka, bisa memaksa masyarakat berpikir untuk memahami berbagai gagasan yang diametral. Hasilnya?
Bisa membuat masyarakat semakin cerdas. Tapi ia bisa menjadi, maaf, ”sampah” kalau kemudian berkembang menjadi ajang saling caci. Ini biasanya mainan para haters. Mereka sama sekali tidak menawarkan gagasan. Hanya bisa menyalahkan, lalu melontarkan caci-maki. Karena anak-anak muda ini bekerja tanpa hati, di belakangnya hampir pasti ada yang ”memesan”.
Maka jangan pernah membaca atau me-repost komentar para haters. Diblok saja, beres. Anda tak berarti antidemokrasi kok, wong membersihkan sampah itu kan baik. Sama sekali tidak ada gunanya sampah dibiarkan berserakan. Hanya akan membuat masyarakat semakin bodoh. Bicara soal polemik, salah satu yang berkembang ramai di masyarakat adalah soal full day school—istilah yang agak membingungkan. Ini gagasan yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.
Kadang saya berpikir, dalam pemerintahan, ini hanya soal cara saja, namanya juga gagasan. Istilahnya test the water. Jadi sebelum suatu kebijakan diterapkan melalui peraturan atau surat keputusan, mereka mengujinya dengan melemparnya ke masyarakat. Di sebuah media, tak lama setelah dilantik misalnya, saya membaca judul: ”Mendikbud Mewacanakan Full School”.
Setelah itu biasanya Pak Menteri bisa membaca pro-kontra yang berkembang. Mana yang lebih banyak, pro atau kontranya, memahami latar belakang dan pemikirannya, pihak yang mendukung dan yang menolak. Ini sekaligus cara sederhana untuk menjaring masukan. Namun dalam peradaban terbuka bisa saja bola berubah menjadi liar. Masyarakat, apalagi orang tua, merasa itu pasti akan diterapkan secara menyeluruh seketika.
Orang-orang pandai seperti Anda atau teman-temannya bisa emosi, adu argumentasi, bahkan marah untuk sesuatu yang untuk diterapkannya saja butuh waktu, butuh uang dan butuh penyesuaian. Kata sejumlah pakar, inilah era sumbu pendek, gara-gara gagasan, kita mudah terbakar dan meledak.
Pro-Kontra
Bicara soal gagasan full day school, saya ajak Anda melihat pro dan kontranya dari sudut pandang lain. Sudut pandang yang mudah-mudahan lebih positif dan memotivasi. Contohnya begini. Mereka yang kontra dengan gagasan full day school kebanyakan beralasan bahwa sekolah-sekolah kita belum semuanya siap. Kota-kota besar mungkin siap, tapi daerah?
Ada sekolah yang belum punya laboratorium, bahkan gedungnya kurang layak ditempati, lalu koleksi buku-bukunya sangat terbatas, alat-alat peraga milik sekolah rusak semua atau tidak ada. Saya setuju. Itulah potret sekolah-sekolah kita. Bahkan di Jakarta pun masih banyak yang seperti ini. Kedua, belajar itu kan bukan cuma di sekolah. Ada peran keluarga dan teman bermain. Dalam banyak hal, anak-anak kita memang kurang bermain.
Namun ini bukan hanya terjadi di sekolah. Keluarga di rumah juga bisa membuat anak-anaknya kurang bermain. Sudah biasa bukan, menyaksikan keluarga yang mengurung anak-anaknya di rumah? Entah bersama pembantu saja, televisi, atau bersama gadget-nya. Atau bahkan bersama guru-guru lesnya yang tiada henti menghafal yang membosankan. Bahkan di sejumlah kampung yang dikenal sebagai kampung buruh migran, biasa kita temui anak-anak yang besar di tangan LSM.
Berbagai laporan menyebutkan dalam lingkungan tanpa orang tua itu, anak-anak biasa menjadi korban kekerasan dari para senior dan teman-temannya. Mari kita coba melihatnya dari sudut pandang yang lain. Pertama, berada di sekolah bukan berarti belajar dari guru terus-menerus. Sekolah bisa menciptakan suasana belajar kepemimpinan, bahkan kewirausahaan. Pramuka, OSIS, organisasi hobi, berwirausaha, berinovasi, dan sebagainya. Sekolah juga bisa menciptakan suasana bermain, bahkan juga tidur siang. Tapi apa semuanya sudah siap?
Anda sudah tahu jawabannya: belum! Apakah semuanya harus seragam, sama baik desa maupun kota? Anda juga sudah tahu jawabnya: tidak! Apakah semua orang tua bekerja mencari nafkah dan mau anaknya 100% di sekolah? Apakah semua guru harus bertugas setiap hari sampai sore? Apakah, apakah… Pokoknya banyak sekali yang Anda pun sudah tahu jawabannya. Kedua, kebijakan full day school ini, mungkin, bisa kita gunakan sebagai alat untuk memaksa pemerintah, baik di pusat maupun daerah, termasuk menteri dan kepala-kepala daerah, agar melengkapi semua fasilitas yang kurang tadi.
Kita punya modal kuat untuk melakukan itu, yakni UU Sistem Pendidikan Nasional. Menurut UU ini, pemerintah wajib menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi warga negaranya. Jaminan itu, antara lain, mesti tecermin dari besarnya anggaran. Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, wajib mengalokasikan anggaran pendidikan 20% dari total APBN atau APBD. Itu regulasinya.
Eksekusinya kerap kali berbeda. Bahkan ada daerah yang belum mengalokasikan 20% anggarannya untuk bidang pendidikan. Maka gagasan full day school kita gunakan untuk memaksa. Berani tidak kita memaksa para pemimpin kita?
Ilmu Kehidupan
Pandangan yang kontra lainnya membayangkan bahwa dalam sistem full day school anak-anak kita akan banyak menghabiskan waktunya di dalam kelas. Kalau seperti itu, saya juga tidak setuju. Kita harus membawa anak-anak kita ke luar kelas. Banyak ilmu yang bisa kita pelajari di luar sana. Ilmu tentang kehidupan. Contohnya begini. Di banyak perempatan lampu merah, kita masih sering menjumpai anak-anak yang dipaksa mengemis oleh orang tuanya.
Saya prihatin dengan kondisi ini. Tapi, selain itu, saya juga mencermati betapa lihainya anak-anak itu ketika menyeberang jalan, menyesuaikan diri dengan lalu lintas di Jakarta yang semrawut. Sekarang bayangkan begini. Anda, sebagai orang tua, apa rela melepas anak-anak menyeberang jalan sendiri? Saya yakin, tidak. Ketika menyeberang, Anda akan memegang tangan anak Anda erat-erat dan menuntunnya sampai ke seberang.
Akibatnya Anda tahu, bukan hanya anak-anak kita, bahkan orang-orang dewasa pun sampai sekarang masih banyak yang tidak tahu bagaimana caranya menyeberangi jalan-jalan di kota besar yang makin hari makin padat dan banyak sepeda motornya. Jalan yang sama sekali tak ramah dengan pejalan kaki. Sementara anak-anak kecil yang besar di jalan, di lampu merah tadi, dengan enaknya bermain dalam bahaya. Mereka tahu kapan saatnya melintas, kapan mesti berhenti. Bagi saya, kemampuan motorik semacam itu penting dimiliki anak-anak kita. Kemampuan semacam itu hanya diperoleh dari ilmu kehidupan. Ilmu yang hanya bisa dipelajari di luar sana.
Interaksi
Bagaimana dengan pandangan full day school akan mengurangi waktu interaksi antara anak-anak dengan orang tuanya? Betulkah? Saya kebetulan tinggal di daerah perkampungan yang hangat. Di sana saya menyaksikan hubungan kekerabatan. Apalagi karena keluarga kami membesarkan anak-anak mereka di sekolah yang relatif baik: PAUD-TK Kutilang.
Sekolah yang pengurus yayasan dan sebagian gurunya juga warga kampung. Hanya alat dan metodenya saja yang kami olah dari sains. Saya amati, di perkampungan saja, meski waktu interaksi anak-anak dengan orang tuanya melimpah, semakin hari tiap keluarga muda ternyata makin sibuk dengan urusan sendiri. Anak-anak sibuk mengerjakan PR, ayahnya malah ngobrol di luar, sementara ibunya asyik menonton sinetron atau mengunggah foto ke FB.
Beruntung anak saya pernah memaksa membuat rumah baca yang kini bisa jadi sarana mereka bermain. Kami bebaskan mereka tertawa, berayun-ayun, dan bermain sambil kadang mendengarkan dongeng. Artinya saya jadi sulit tidur siang. Untung kami tidak terbiasa melakukannya. Bicara soal ini, saya tiba-tiba rindu dengan suasana kampung- kampung di Solo, Yogyakarta, dan Magetan. Di sana warganya sepakat berinisiatif mengeluarkan aturan tentang wajib belajar pukul 18.00- 21.00. Pada jam-jam tersebut semua TV harus mati.
Anak-anak tidak berkeliaran di jalan. Orang-orang tua semuanya juga ada di rumah. Kampung jadi senyap. Kalau inisiatif semacam ini bisa diterapkan secara nasional, saya yakin, dampaknya bakal luar biasa bukan hanya terhadap dunia pendidikan, tetapi juga bagi perubahan perilaku masyarakat kita. Bayangkan, pada jam-jam belajar, orang tua dan anak-anak semuanya berada di dalam rumah.
Mereka berbincang. Anak-anak mengerjakan PR, sementara orang tuanya membaca buku, koran atau majalah. Sayangnya fenomena semacam ini sulit kita jumpai di masyarakat. Jadi, namanya juga wacana, kita tak perlu mendiskusikan hal ini sampai membuat kita sakit kepala.
Juga biasakan hidup dalam kebijakan yang tak seragam demi menghormati perbedaan dan kekayaannya. Sebuah wacana bisa dilihat dari aneka perspektif, bukan?
Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia
Sumber: http://www.rhenaldkasali.net/2016/08/full-day-school_11.html
Azaki Khoirudin


Azaki Khoirudin
Koran SINDO (Sabtu, 8 Agustus 2015)


PERHELATAN akbar lima tahunan Muktamar Ke- 47 Makasar sudah selesai kemarin. Pada muktamar kali ini Muhammadiyah membawa ide “Islam Berkemajuan” dan tegaskan dirinya sebagai “Gerakan Pencerahan”. Artinya, jati diri Muhammadiyah lekat sekali antara “Islam” dan “kemajuan”. Tema ini begitu berat, sangat relevan dengan kondisi bangsa, bahkan dunia saat ini. Untuk mematangkan gagasan tersebut, Prof Din Syamsuddin mengadakan “Silatul Fikri” di Puncak Bogor, 24-26Juli2015. Kegiatandiikuti 60 intelektual Muhammadiyah dari berbagai bidang keilmuan.
Dalam pembahasan “Islam Berkemajuan”, yang menjadi tolok ukur utama adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks). Tetapi, berbasis pada pemahaman Islam. Pertanyaannya, mampukah pendidikan Muhammadiyah menjawab tantangan tersebut? Tampaknya, gerakan dari warga dan aktivis Muhammadiyah pada Muktamar Makasar ingin menyukseskan Majelis Pesantren.
Padahal, kita tahu semua selama ini Muhammadiyah bergelut di dunia pendidikan, terutama sekolah dan universitas. Hal ini disinyalir gejala krisis ulama ditubuh Muhammadiyah. Makanya, Muhammadiyah mulai melirik pesantren dan perlu penguatan kaderisasi ulama.
Ijtihad Pesantren Muhammadiyah 
Sudah menjadi ciri khas Muhammadiyah yang fokus di dunia pendidikan, terutama sekolah. Selama ini pesantren Muhammadiyah yang terkenal adalah Madrasah Muallimin dan Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta. Pesantren ini merupakan pesantren awal yang dimiliki Muhammadiyah.
Dalam kaderisasi ulama, Muhammadiyah memiliki Pondok Hj Nuriyah Shabran di Surakarta, Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah di Yogyakarta dan Malang. Seabad berselang, Muhammadiyah berijtihad kembali di dunia pesantren. Jelang seabad, Muhammadiyah berijtihad mendirikan Muhammadiyah Boarding School (MBS) di Prambanan, Sleman.
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah kini melahirkan Trensains sebagai revolusi pesantren berkemajuan. Trensains adalah kependekan dari “Pesantren Sains” yang merupakan sintetis dari pesantren dan sekolah umum. Trensains merupakan lembaga pendidikan setingkat SMA. Proyek baru di Indonesia, bahkan mungkin di dunia Islam. Pesantren yang fokus mengkaji dan meneliti ayat-ayat semesta Alquran.
Kata Trensains bermakna mengetren kan pesantren ke masyarakat, juga berarti sains menjadi tren masyarakat hari ini. Kreator lahirnya Trensains adalah Agus Purwanto D Sc (Saintis Fisika Teori alumnus Universitas Hirosima Jepang). Program Trensains pertama telah berdiri di Sragen, Jawa Tengah dengan nama SMA Trensains DIMSA (Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen) yang di-launching pada 1 Muharam 1435 H/ 5 November 2013 oleh PP Muhammadiyah.
Kini Trensains menjadi megaproyek Muhammadiyah abad kedua. Uniknya, program ini juga dibuka di Pesantren Tebuireng Jombang yang notabene milik NU atas pemintaan Sholahuddin Wahid (Gus Sholah). Ini menandakan bahwa Muhammadiyah sangat terbuka melakukan kerja sama dengan pihak mana pun, dan pengembangan pendidikan bersifat rahmatan lil `alamin.
Trensains hadir di tengah keadaan umat dan para ulama yang terlalu banyak menyita waktu untuk membahas persoalan fikih. Umat lalai atas fenomena alam. Abai terhadap ayat kauniah yang jumlahnya lima kali lipat dari ayat kauliah. Sains seolah-olah tidak terkait dan tidak mengantar orang Islam ke surga.
Tanpa sains dan teknologi umat Islam akan jatuh dan tersungkur ke buritan peradaban. Trensains berbeda dengan “pondok pesantren modern”. Trensains tidak menggabungkan materi pesantren dan ilmu umum sebagaimana “ponpes modern”. Materi khas Trensains dan tidak ada dalam ponpes modern.
Trensains memiliki visi, “Lahirnya generasi yang memegang teguh Alquran dan Sunah, mencintai dan mengembangkan sains, dan mempunyai kedalaman filosofis serta keluhuran akhlak.” Di sini pula spirit Islam berkemajuan abad kedua dan pentingnya pesantren ala Muhammadiyah.
Urgensi Majelis Pesantren 
Setelah sukses dengan pembukaan di Lapangan Karebosi, yang dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Muktamar dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban kepemimpinan selama satu periode (2010- 2015) dan dilanjutkan sidang komisi.
Dalam sidang komisi inilah mulai dibahas pemikiranpemikiran besar dan programprogram Muhammadiyah ke depan. Setiap ide dan gagasan, tanpa lembaga, tak akan bisa direalisasikan dengan baik. Perlahan akan menguap, dan hilang ditelan zaman. Begitupula pelbagai model pesantren Muhammadiyah.
Perkembangan model-model pesantren Muhammadiyah harus diatur dalam lembaga khusus. Karena mengurus sekolah, perguruan tinggi itu, berbeda dengan mengurus pesantren. Pondok pesantren Muhammadiyah menjamur di seluruh Nusantara mendorong solidaritas terbentuknya Perhimpunan Pondok Pesantren Muhammadiyah (Ittihadul MaIttihadul Maahid al-Muhammadiyah ) disingkat dengan ITMAM.
Muhammadiyah harus turut ikut memikirkan nasib pesantren Nusantara serta bagaimana cara pesantren yang melahirkan ulama berkemajuan. Merujuk pada Karel A Steembrink bahwa sistem pesantren tradisional selama ini terdiri lima elemen pokok yaitu kiai, santri, masjid, pondok, dan kitab-kitab klasik.
Akan tetapi, kelemahan pesantren hari ini terletak pada segi metodologi tradisional, terlalu menekankan fikih, dan minim ilmu umum. Dari segi manajemen pesantren banyak kelemahan. Zamahkhsyari Dhofier menyebut pesantren seperti kerajaan kecil. Kiai merupakan sumber mutlak, kekuasaan dan kewenangan kehidupan pesantren, termasuk ke mana arah, visi, dan tujuan.
Padahal, kiai memiliki keterbatasan dan kekurangan. Metode yang digunakan pesantren yang digunakan kiai telah abai pada aspek kognitif. Selain itu, aspek kurikulum pesantren juga mengalami penyempitan, pelajaran agama masih dominan di lingkungan pesantren. Tasawuf sebagai inti keagamaan terabaikan. Padahal, di era masyarakat modern, religiusitas sangat dibutuhkan.
Di sinilah Muhammadiyah harus ambil bagian. Atas dasar itu, dalam Silaturahim Nasional (Silatnas ITMAM), 8-10 Mei 2015 di PondokPesantrenImamSuhodo, ternyata Muhammadiyah memiliki 180 pondok pesantren. Silatnas ITMAM merekomendasikan agar Muktamar Ke-47 di Makassar dapat memutuskan berdirinya Majelis Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Dikdintren).
Tampaknya persiapan pendirian Majelis Pesantren semakin matang pada muktamar kali ini. Sebagai ormas dakwah, pendidikan Muhammadiyah harus kembangkan pondok pesantren. Jika tidak, Muhammadiyah akan kehilangan elan vital-nya sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid.
Dengan kata lain, lembaga pendidikan pondok pesantren bisa diandalkan untuk memecahkan masalah krisis ulama dan ilmuwan Muhammadiyah. Maka, pendirian Majelis Pesantren adalah sebuah keniscayaan sejarah.
Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat IPM, Alumni Pendidikan Kader Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran UMS
image from google
The Muhammadiyah has long been widely acknowledged as a religious reform movement  within Indonesian Islam. My experience as a movement insider in the 1990s has led me to reconceptualize the early picture of the Muhammadiyah in the light of the Protestant Reformation. The tenets of Islamic reform in the early stages of the Muhammadiyah resemble to some extent those of the Protestant Reformation. They share a few elements of the Protestant ethic, and may appropriately be called a Protestant type of Islamic reform. Since the term ‘puritanism’ is closely associated with both Calvinism and the Muslim puritans of the Muhammadiyah, at least some similarities are to be expected.
First, both Calvinists and Muslim puritans have indeed preached the doctrine of scripturalism, reliance upon scripture alone (the Bible or the Qur’an). ‘Back to the scripture’ has been the clarion call of reformist-puritan movements in both religions. Calvinism relied heavily on the strict reading of the Old and New Testaments, whereas Muslim puritans want to return to the original sources of Islam (al-ruju ¯ila ¯ al-qur’a ¯n wa-al-sunna). Both the Bible and the Qur’an are seen as a primary source of authority and legitimacy. As a consequence, all believers should have equal rights to access and interpret scripture, just as religious clerics have had for years.
Second, as a consequence of the slogan ‘back to scripture’, both the Calvinists and Muslim puritans stand directly before God. ‘The Calvinist’, as Weber asserts, ‘also wanted to be saved sola fide’ (Weber, 2005, p. 68). The doctrine of ‘justification by faith alone’ (sola fide) has been at the core of Calvinism with its ascetic action in thisworldly activity. There is no such thing as a religious intermediary in the divine relationship between God and humans. In Calvinism, the absence of religious intermediaries is visible in, for example, the dismissal of sacramental grace, the exclusion of priests and the rejection of church hierarchy. There is indeed no priesthood in Calvinism.
The Muslim puritans have shared basic tenets of Calvinist reform. No priesthood stands between the Muslim puritans and Allah. Believers are held to be in direct and personal relationship with Allah. Just as for Calvinists, the belief in Allah for Muslim puritans must be proved by ascetic action in this-worldly activity (explained further in the next section). Muslim puritans grew up in the milieu of Javanese syncretism. Their reformist-puritanical style can be seen in their struggle for the purification of Islam and the abolition of saint and spirit worship in Java.
Third, both Calvinists and Muslim puritans have pursued, using Weber’s own terms, the ‘disenchantment of the world’ (ibid., pp. 61, 178). This process began in ancient Jewish prophecy, influenced by Hellenistic scientific thought. It culminated in Calvinistic theology and practice, which rejected all magical-sacramental means in the quest for salvation (ibid., p. 61). The revival of Muslim puritans in the early development of the Muhammadiyah was basically a response to bidc(innovation), takhayyul and khura ¯fa ¯t (superstition). All these magical elements were anti-rational, and, to use Weber’s thesis, must be excluded from both the practice of Islam and the conception of the world. In short, the Muslim puritans have struggled for two main objectives: the exclusion of  those magical elements from the practice of ‘pure Islam’ and the demystification of the conception of the world in favor of rational calculation and behavior.
Fourth, as a consequence of the ‘disenchantment of the world’, Muslim puritans have fully shared several similarities with Calvinism in terms of rationalization. Islamic doctrine was rationalized by purifying the faith of the mystic form of Hindu-Javanese Islam. Uncritical acceptance of clerical authority (taqlı ¯d), which is regarded as a source of conservatism and stagnation, has been abandoned in favor of rational-independent thinking (ijtiha ¯d). Commitment to rational interpretation of Islam has been for Muslim puritans the key to progress and prosperity in the modern world.
The rationalization developed by the Muhammadiyah as a reformist-modernist organization can further be seen in the shift from charisma to modern bureaucracy. The Muhammadiyah has become a highly organized and bureaucratized movement, with more capable and efficient administration. It contains functional divisions, a central office, district and local branches and a coordinated network. The creation of a modern organization and bureaucracy has been an effective means of social transformation.
Similar to what may be observed in Calvinism, the rationalization of the conduct of life can be seen in the re-interpretation of Islamic doctrines in accord with modern rationality and progress. To Muslim puritans, Islam and progress can certainly be reconciled. The spirit of ijtiha ¯d as a source of rationality and progress has always been linked with the habits of entrepreneurship (explained further in the next section).
Finally, both Calvinists and Muslim puritans have adopted what Weber called a stance of ‘innerworldy asceticism’. Ascetic Protestantism, particularly Calvinism, used ascetic means to transform the external world. The spirit of modern capitalism emerged as a result of the so-called ‘elective affinity’ between asceticism and self-discipline among Calvinists. Aptly enough, Muslim puritans have engaged in Islamic asceticism without escaping from the world (explained further in the next section). In fact, they have regarded ascetic means as the driving force toward world transformation.
SUMBER: SUKIDI, “Max Weber’s Remarks on Islam: The Protestant Ethic among Muslim Puritans” Islam and Christian–Muslim Relations, Vol. 17, No. 2, 195–205, April 2006, 200-201.
< Sw > ( Dbs )
Buku teknologi perkembangan masa depan. Ilustrasi



KabarMuhda--Ibnu Hazm meletakkan sebuah kaidah untuk mengetahui apakah sesuatu yang kita peroleh itu nikmat atau fitnah. Ia berkata, "Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah hanyalah musibah" (Jaami'ul Ulum wal Hikam). 

Teknologi dapat memberi kebaikan yang banyak bagi seorang mukmin. Memanfaatkan teknologi untuk menuntut ilmu, misalnya, adalah bentuk syukur kepada Allah terhadap nikmat teknologi. Allah SWT berfirman, "Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)"  (QS at-Takatsur: 8).

Seseorang bernama Baqi bin Makhlad berjalan dari Andalusia (Spanyol) menuju Baghdad dengan menyusuri Afrika Utara untuk berguru kepada Imam Ahmad bin Hambal (Thabaqatil Hanabilah). Pada hari ini, seseorang dapat menimba mata air ilmu ke sejumlah kota di Indonesia, bahkan ke negari-negeri di Timur Tengah, menggunakan moda transportasi udara hanya dalam hitungan belasan jam. Sekarang perjalanan Baqi bin Makhlad tersebut dapat ditempuh enam sampai tujuh jam saja menggunakan pesawat komersial.

Mencari hadis pun pada hari ini sangatlah mudah. Selain banyak terdapat di perpustakaan dan toko-toko buku, kitab-kitab hadis dalam beragam format dapat diakses melalui gawai, termasuk dalam bentuk software.

Dua belas abad silam, Abu Hatim ar Razi harus menempuh perjalanan sejauh 4.800 kilometer untuk mencari hadis-hadis Nabi. Ia mengembara selama 10 tahun saat infrastruktur jalan modern dan kendaraan bermesin belum ada. Karena kertas belum diproduksi secara massal sehingga harganya terbilang mahal, beliau pernah menjual bajunya seharga 60 dirham, 10 dirham ia belanjakan untuk kertas dan selebihnya ia gunakan sebagai upah bagi penyalin kitab Imam Asy Syafi'i. 

Imam Asy Syafi'i pun pernah menulis di atas pelepah kurma, tulang unta, bebatuan, tembikar dan kertas bekas yang dibuang orang (Ensiklopedi Imam Syafi'i). Gawai pada hari ini menawarkan banyak fungsi. Salah satunya untuk menuliskan catatan ringkas atau merekam. Dahulu, Majduddin ibn Taimiyah (kakek Ibnu Taimiyah) harus memintakan orang lain membacakan sebuah kitab saat ia sedang di kamar mandi. Hal itu ia lakukan agar tidak ada waktu yang terbuang percuma. Apabila alat perekam sudah ada, tentu ia tidak perlu bersusah-susah untuk mengulang pelajaran.

Ketekunan Imam Bukhari dalam menulis kitab Tarikh Kabir pun tidak padam dengan gelapnya malam. Karena tidak memiliki uang untuk membeli lampu minyak, beliau duduk di dekat makam Rasulullah dan menulis di bawah sinar rembulan. Pada hari ini, nyaris tidak ada satu pun hunian tanpa penerangan.

Ketika komputer, laptop, alat tulis praktis, dan internet belum ditemukan, Imam Thabari menulis tarikhnya sebanyak 3.000 halaman (Siyar A'lam an Nubala), sedangkan Ibnu Aqil menulis sebuah karya terbesar di dunia, yakni al Funun sebanyak 400-800 jilid (Tarikh Islam). Tanpa mesin cetak, Ahmad bin Abdid al Maqdisiy telah menyalin lebih dari 2.000 jilid kitab, sedangkan Ibnu Jauzi menyalin 50-60 kitab dalam setahun. Subhanallah.



Penulis : Wisnu Tanggap Prabowo