Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Islam Sebagai Ilmu Epistemologi, Metodologi, dan Etika 


Islam Sebagai Ilmu Epistemologi, Metodologi, dan Etika
Penulis: Kuntowijoyo
Penerbit: Tiara Wacana
Tahun: 2007
Halaman: 136
 
Keterangan/Sinopsis buku :
 
Tergerak untuk menuliskan sedikit tentang Buku ini, ketika saya mengikuti TM 3 PW IPM Jateng yahun 2016. Ya materinya tentang Integrasi Islam dan Ilmu. Sempat bingung juga. Karena belum baca bukunya sampai selesai. nah itu sedikit cerita kenapa saya bermotivasi menyampaikan buku ini, agar banyak yang tahu, bahwa Islam adalah agama yang Sepurna.

Buku INI tercipta Berangkat dari keprihatinan Kuntowijoyo atas gagasan Islamisasi pengetahuan yang cenderung bersifat reaktif, Kuntowijoyo dalam buku ini menawarkan suatu penyikapan baru perihal hubungan antara agama (Islam) dan ilmu. Menurutnya, dalam hal ilmu, gerakan intelektual Islam harus melangkah lebih jauh, yakni bergerak dari teks menuju konteks. Ikhtiar keilmuan ini memiliki tiga sendi, yakni pengilmuan Islam sebagai proses keilmuan yang bergerak dari teks Al-Qur’an menuju konteks sosial dan ekologis manusia; Paradigma Islam? adalah hasil keilmuan (yakni paradigma baru tentang ilmu-ilmu integralistik, sebagai hasil penyatuan agama dan wahyu); dan Islam sebagai ilmu yang merupakan proses sekaligus sebagai hasil. Atas gagasan yang dilontarkannya ini, Kuntowijoyo pun mengajak intelektual Islam untuk mengganti Islamisasi pengetahuan menjadi pengilmuan Islam.
 
Dengan ulasan yang sangat bernas, buku ini amat sesuai untuk digunakan sebagai referensi pembelajaran Kuliah, dISKUSI Keilmuan , untuk melihat hubungan Islam dan ilmu pengetahuan, baik menyangkut aspek-aspek epistemologi (dasar-dasar pengetahuan), metodologi (cara-cara menerjemahkan agama yang normatif ke dalam ilmu teoretis), maupun etika (hubungan antara Islam sebagai ilmu dan realitas sosial).
 
Semoga Bermanfaat. 
 
( Satrio W )
 
Assalamu'alaikum Sobat pecinta Buku, bagaimana kabar Iman Dihatimu ? Yuk malam ini saya sampaikan mind mapping resensi Buku2 yang mungkin bermanfaat buat kamu. Simak dibawah. Let's Go ! 

10. Maps

Maps

Maps menjadi salah satu dari top 10 novel romantis best seller Indonesia tahun 2016. Novel ini menceritakan tentang persahabatan Gellar dan Gita yang menjadi tokoh penting. Bahasa yang cukup ringan membuat novel ini sangat sesuai untuk kalangan remaja. Maps diterbitkan pada bulan Mei 2016 oleh Loveable.

9. TYPO
TYPO

Christian Simamora kembali menyuguhkan novel cinta romantis dengan bahasa yang sangat berkarakter. TYPO hadir sebagai cerita yang sebenarnya sering terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Kisah cinta sepasang kekasih harus dihadapkan masalah besar saat kedua orang tua mereka tidak merestui hubungan kasihnya. Masing-masing karakter dari novel ini tampil sangat mendalam. TYPO diterbitkan bulan Agustus 2016 oleh Twigora.

8. ILY From 38000 ft
ILY From 38000 ft

Novel ini menceritakan tentang seorang gadis keturunan ningrat bernama Aletta yang melakukan perjalanan ke Bali. Di dalam pesawat, dia bertemu dengan seorang pria bernama Arga. Cerita mereka berlanjut saat melakukan pekerjaan bersama untuk sebuah program acara televisi. Sayangnya, setelah Aletta kembali ke Jakarta, dirinya tidak lagi menerima kabar Arga. Novel ini diterbitkan pada bulan April 2016 lalu oleh Loveable.

7. PROMISE
PROMISE

PROMISE adalah salah satu novel yang diangkat ke layar lebar. Novel ini bercerita tentang arti sebuah janji yang diucapkan untuk orang lain. Termasuk janji untuk saling menjaga cinta pasangannya. Novel karya Tisa T.S dan Dwitasari ini dianggap mampu mengajak pembaca untuk masuk dalam karakter masing-masing tokoh. Novel ini diterbitkan pada bulan Agustus 2016 lalu oleh Loveable.

6. Dear Nathan
Dear Nathan

Penulis novel Erisca Febriani kembali menampilkan karya novel terbaiknya melalui Dear Nathan. Novel ini mengangkat tema masa remaja yang banyak dikisahkan melalui pengalaman saat sekolah SMU. Erisca sangat berani menampilkan karakter Salma Avira sebagai remaja perempuan yang berjuang untuk cintanya. Novel ini juga masih berkutat tentang persahabatan, arti tentang kehidupan dan perasaan yang harus dihargai. Novel ini diterbitkan bulan Maret 2016 oleh Best Media.

5. Tentang Kamu
Tentang Kamu

Tere Liye menampilkan kesederhanaan kata-kata menjadi sebuah perasaan sendu pada novelnya berjudul, Tentang Kamu. Apalagi pengalaman hidup Tere menjadi dasar penting untuk membentuk banyak karakter dari novel ini. Tentang kamu bercerita tentang Zaman Zulkarnaen yang ditugasi untuk mencari latar belakang dari kliennya seorang perempuan kewarganegaraan Inggris yang meninggalkan banyak kisah. Novel ini diterbitkan bulan Oktober 2016 oleh Republika.

4. Matahari
Matahari

Masih tentang Tere Liye yang hadir dengan novel berjudul, Matahari. Novel ini bercerita tentang seorang remaja pria yang mengalami hidup sangat membosankan. Namun, kehidupan dirinya mulai berubah setelah mendapatkan kekuatan super. Dirinya dan beberapa temannya mulai mengalami kejadian aneh. Novel ini diterbitkan pada bulan Juli 2016 oleh Gramedia Pustaka Utama.

3. Tidak Ada New York Hari Ini
Tidak Ada New York Hari Ini

Pilihan lain dari top 10 novel cinta romantis best seller Indonesia 2016 adalah Tidak Ada New York Hari Ini. Ini merupakan kumpulan dari karya sastra berupa puisi milik M. Aan Mansyur yang digunakan dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2. Alunan kata yang dirangkum dalam seluruh puisi Aan mampu membawa kita dalam cerita Cinta dan Rangga sebenarnya. Novel ini diterbitkan pada April 2016 oleh Gramedia Pustaka Utama.

2. My Other Half
My Other Half

Cyndi Dianing Ratri memberikan beberapa kisah dari karakter berbeda. Masing-masing dari karakter yang tampil pada Novel ini akan mengajarkan banyak hal. Cinta, persahabatan, hingga perjuangan hidup menjadi bagian penting. Novel ini diterbitkan pada April 2016 oleh Gagas Media.

1. Milea Suara Dari Dilan
Milea Suara Dari Dilan

Yah udah deh pembahasannya. Semoga bermanfaat ya.
yuk Beli sobat, biar lebih mendalam taunya .:-)

 < Sw >

96178_f
Bagaimana seseorang bisa menjadi Muhammadiyah? Setidaknya ada lima jawaban dari pertanyaan tersebut. Pertama karena adanya konversi, yaitu mereka yang awalnya menganggap keyakinan tertentu sebagai pinggiran dan tak penting atau bahkan menyimpang, namun kemudian ia berubah meyakini bahwa yang pinggiran itu menjadi sentral atau sangat penting. Dan lagi, keyakinan baru itu menjadi tempat ia menumphakan seluruh aktivitas dan energinya. Sedangkan yang kedua adalah mereka yang bekerja di amal usaha milik Muhammadiyah, yang kemudian menjadi Muhammadiyah. Ketiga mereka yang bekerja di amal usaha Muhammadiyah, namun menjadi ancaman Muhammadiyah. Dan yang keempat adalah mereka yang tak sekedar menjadi Muhammadiyah, mereka menjadi aktivis Muhammadiyah (namun) dengan tetap membawa pemahaman dan pemikiran yang sebelumnya dimiliki. Sedangkan yang terakhir adalah mereka yang mengkaji Muhammadiyah atau Muhammadiyanist.

Lima klasifikasi atau ketegori tersebut secara sederhana bisa dipahami sebagai; pertama konversi Muhammadiyah, keduasimply menjadi Muhammadiyah, ketiga fake Muhammadiyah, dan keempat menjadi aktivis Muhammadiyah. Terakhir adalah pengkaji Muhammadiyah.
Begitu kira-kira berbagai jalan mengapa seseorang menjadi Muhammadiyah yang dibuat oleh Najib Burhani. Tapi, sepertinya klasifikasi yang dibuat Najib Burhani itu ada yang tertinggal. Najib Burhani (mungkin) lupa untuk memasukkan juga kategori menjadi Muhammadiyah karena faktor keturunan atau warisan orang tua. Karena toh, mau tidak mau, sadar ataupun tidak, menjadi Muhammadiyah dengan cara mewarisnya dari orang tua itu nyata adanya.
Djoko Susilo adalah contohnya, meski secara “formal” ia bergabung dengan Muhammadiyah pada tahun 1993. Namun, jauh sebelum kartu tanda anggota Muhammadiyah itu dipegang, ia terlebih dahulu sudah berproses menjadi Muhammadiyah saat mengenyam pendidikan di TK Bustanul Athfal. Ayahnya, bahkan sempat juga tercatat sebagai utusan Pemuda Muhammadiyah Boyolali untuk muktamar kesembilan Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1966 di Jakarta. Djoko Susilo mewarisi ke-Muhammadiya-han ayahnya.
Becoming Muhammadiyah adalah perjalanan menjadi, ia merupakan proses yang panjang dan tak berujung. Proses menjadi hanya akan selesai dialami oleh manusia jika ia telah berhenti, yaitu saat perkongsian jiwa dan raga selesai. Karena bisa saja dalam perjalanan proses menjadi itu, ada jalan lain yang lebih menarik untuk ditelusuri dari jalan yang ditempuh. Perpindahan ‘jalan’ itu lumrah dan biasa saja, karena memang itu adalah proses.
Di atas hanyalah potongan cerita dari tujuh belas cerita yang terhimpun dalam buku “Becoming Muhammadiyah”. Sebuah buku yang lahir untuk menyambut muktamar ke-47 Muhammadiyah di Samarinda.
Sebuah Buku Tentang Jatuh Cinta
Buku Becoming Muhammadiyah adalah buku tentang jatuh cinta, sebuah buku yang memaparkan bagaimana seseorang meletakkan pilihan, lalu melihat bagaimana orang itu membangun pilihannya dengan cinta. Tujuh belas orang dengan tujuh belas cerita jatuh cinta pada Muhammadiyah.
Karena ini buku tentang jatuh cinta, kita akan mudah menemukan cerita bagaimana prasangka lahir. Tengoklah bagaimana Najib Burhani, Ma’mun Murod Al Barbay, dan Ahmad Fuad Fanani berada dalam prasangka itu, mereka tidak lahir dari rahim orang tua atau lingkungan Muhammadiyah. Mereka berdua mengenal Muhammadiyah dari teropong kecil masa kecil yang seringkali buram karena prasangka. Hingga pada akhirnya, mereka menemukan definisi muhammadiyah dalam hidup dan perjalanan intelektualnya.
Ada juga cerita tentang anak muda yang merantau ke sebuah kota untuk melanjutkan pendidikan, dalam keterbatasannya, ia kemudian bertemu dengan “rumah” yang menaungi diri “fisik”, yang juga di dalam rumah itu ditawarkan gagasan dan aktivisme.
Pula dengan kenyataan bahwa rindu seringkali menggoda tiba-tiba, Andar Nubowo mengalami hal itu. Saat berada di Paris untuk melanjutkan studi, Andar sadar bahwa identitas religius dalam bentuk pengajian dan taklim seringkali berubah menjadi arena perjumpaan dan persemaian ideologis. Ia kemudian membentuk Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di sana. Hal sama juga dialami oleh Agus Purwanto ketika berada di Jepang untuk menyelesaikan pendidikan master dan doktoralnya, ia didapuk menjadi menjadi vice presiden Saijo-Hiroshima Moslem Association. Ia lantas merutinkan mengajian berkala untuk komunitas muslim. Dawuh Kyai Dahlan agaknya cocok dengan apa yang dialami oleh Andar dan Agus Purwanto “Berusahalah menjadi orang Islam yang berani menunjukan identitas yang sebenarnya, bukan malah ingin menyembunyikannya”.
Untuk Siapa?
Buku ini adalah buku tentang jatuh cinta, jadi jangan harap banyak untuk menemukan cerita duka (nestapa), kalaupun ada, itupun tak seberapa banyak dari kisah jatuh cintanya. Jika ingin dramatis, bisa saja dibilang kisah sedih di sini adalah sebuah penyemurna cerita dari perjalanan menjadi, yang tanpanya (dan itu pasti tidak mungkin) – perjalanan menjadi itu tidak akan seindah ini. Ekstrimnya adalah kisah-kisah dalam buku ini tak lagi (layak) ditulis.
Namun sayang, dari tujuh belas cerita dari tujuh belas orang ini hanya dua pelaku sejarahnya yang perempuan, lima belas lainnya adalah laki-laki. Seolah-olah dunia harakah adalah dunia (dominasi) laki-laki. (Tokoh) Perempuan seringkali diberikan porsi yang amat sedikit atau dalam bahasa yang lebih kasar cerita perempuan (selalu) dihilangkan atau tidak direkam dengan baik.
Sebagai sebuah kumpulan reflektif, buku ini layak dibaca sembari mimum teh di pagi hari atau kopi saat senja. Secara pribadi, saya sebenarnya menyarankan buku ini dibaca oleh anak-anak muda yang sedang mengalami masa transisi ‘keyakinan’, ataupun yang sedang berjuang memperteguh keyakinannya. Setidaknya, dalam buku ini mereka bisa melihat bagaimana memaknai perpindahan ‘keyakinan’ dan atau mempertahankan ‘keyakinan’ dengan cantik, dan lebih dalam lagi lewat bingkai aktivisme.
Tak perlu kiranya tulisan ini diperpanjang lagi. Jika waktu pagi anda luang dan hanya berteman teh manis hangat, atau saat sore hanya bertemu kerumanan mobil yang tak bergerak. Ada baiknya anda berteman dengan buku ini. Percayalah tak ada dahi yang berkerut atau mata yang memicing karena susah menangkap cerita. Membaca buku Becoming Muhammadiyah itu seperti mendengarkan cerita temanmu, teman dekatmu.
Untuk mengakhiri tulisan ini, agaknya baik jika merenungkan kembali nasehat Kyai Dahlan tentang bagaimana kita memperlakukan Muhammadiyah “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah”. 
Sumber Mizan.com (Nur Hayati Aida)
 < Sw >
unnamed-2KabarMuhda--Santri-santri yang berguru pada seorang kyai mulai merasa bosan. Pasalnya, setiap hari sang Kyai hanya mengajarkan sesuatu yang sama untuk jangka waktu yang sangat lama. Saking bosannya, para santri itu sering membuat lelucon dengan bertanya pada sesamanya, “Hayo, belajar apa hari ini?”saking mereka merasa bosan. Sang Kyai tahu benar bahwa santrinya merasa bosan dengan yang ia ajarkan, sesuatu yang sama setiap hari. Sang kyai mengajarkan surat al-Ma’un setiap hari, setiap pertemuan. 1 surat dari 114 surat yang menjadi bagian al-Qur’an itu diajarkan berulang-ulang. Meski begitu, sang Kyai tidak marah saat para santri merasa bosan, menjadikannya lelucon, atau meningalkan kelas karena bosan, beliau kemudian bertanya pada santri-santrinya:

“Sudah diamalkan surat al-Ma’un ini?”“Sudah.” jawab para santri.“Diamalkan di mana?” tanya Kyai melanjutkan.“Sudah kami hafalkan suratnya, dan kami pakai dalam salat lima waktu.”

Singkat cerita, setelah mendengar jawaban dari santrinya, keesokan harinya sang Kyai mengajak para santrinya membawa apa saja yang bisa diberikan kepada fakir miskin yang ada di Jogjakarta. Dalam ajakan itu, sang Kyai sebenarnya sedang menjelaskan makna surat al-Ma’un yang setiap hari ia ajarkan. Bahwa kesalehan ritual dengan mengamalkan surat dalam bacaan salat atau sekadar dihafalkan juga harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Bahwa mengamalkan surat itu tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tapi juga untuk kemaslahatan masyarakat sekitar (yang membutuhkan).

Siapakah Kyai itu? Hampir semua dari kita tahu, bahwa sosok sang Kyai itu adalah Kyai Haji Ahmad Dahlan, sang Kyai pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Maka tak heran, jika surat al-Ma’un menjadi basis teologi Muhammadiyyah dalam berkegiatan yaitu pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan sosial. Hampir tidak bisa kita lepaskan Muhammadiyah atau Kyai Dahlan dari pelajaran dahsyat tentang surat al-Ma’un itu. Maka jangan heran, jika Muhammadiyah sampai saat ini memiliki 77.227 PAUD, TK, TPA dan MI/SD, 2.915 SMP/MTS serta SMA/MA, 67 pesantren, 172 universitas, akademi dan politeknik, 457 rumah sakit, klinik, dan poliklinik, serta 454 panti asuhan, rumah jompo, dan pusat rehabiltasi cacat.Nah, inilah semangat yang coba dituliskan kembali oleh Najib Burhani dalam buku yang ditulisnya dengan judul Muhammadiyah Berkemajuan: Pergeseran dari Puritanisme ke Kosmopolitanisme.

Menjelajah Islam BerkemajuanSetidaknya ada enam bab yang dipaparkan dengan baik oleh Najib Burhani dalam buku Muhammadiyah Berkemajuan ini. Bab pertama, diberi judul Muhammadiyah Sebagai Islam Berkemajuan, penulis menempatkan enam pokok bahasan. Bahasan pertama, menjelaskan duduk perkara antara Islam Nusantara yang diusung oleh NU sebagai teman (rival?) dari Muhammadiyah yang menggunakan jargon Islam Berkemajuan. Kemudian, penulis menukik, atau lebih tepatnya mendedah betapa banyaknya sektarianisme di tubuh umat Islam Indonesia. Bagian tiga, empat, lima dan enam dalam bab pertama, penulis, secara khusus membahas hal-hal yang berkenaan dengan Muhammadiyah, berkaitan tentang jalur atau corak persyarikatan Muhammadiyah. Dan mengumandangkan seruan untuk ijitihad baru di tubuh Muhammadiyah.

Identitas Muhammadiyah yang menjadi judul bab II, menyajikan komposisi atau unsur masyarakat Muhammadiyah. Keragaman kosmopolit di Muhammadiyah menjadi ulasan yang penting, bagaimana tidak? Sebagaimana NU, Muhammadiyah adalah organisasi yang menjadi benteng pertahanan Islam yang rahmatan lil alamin di Indonesia. Oleh karenya, Muhammadiyah menganjurkan warganya untuk ikut serta membendung berkembangnya kelompok takfiri, yaitu kelompok yang dengan sangat mudahnya menuduh kelompok lain yang tak sefaham dengan kelompoknya sebagai kafir. Dalam bab II ini juga dibahas tentang Islam moderat sebagai sebuah paradoks, apakah Muhammadiyah sebagai civil Islam?, Muhammadiyah sebagai representasi Islam Jawa.

Pada bab ini penulis juga membahas tentang bagaimana Muhammadiyah melirik tasawuf, satu disiplin ilmu atau ajaran yang seringkali diasosiasikan lebih dekat ke NU ketimbang Muhammadiyah, karena Muhammadiyah dianggap anti-tasawuf, yang pada praktiknya banyak tawasul dan tahlil. Memulai pembahasan ini, penulis mengutip Haedar Nashir pada tahun 2001 yang mengatakan, “Ketika kita masih butuh rasionalisme, mengapa beberapa aktivis Muhammadiyah justru terlibat dalam gerakan antirasional seperti pada tasawuf atau spiritualitas? Namun, penulis kemudian menyusulkan pandangan lain dari Amin Abdullah, pada saat yang sama, mencoba menawarkan pendekatan yang selama ini dianggap asing dalam tradisi tarjih, yaitu pendekatan ‘irfani atau burhani, suatu pendekatan yang lekat dengan tasawuf.

Bab III buku ini mengupas Teologi al-Ma’un, yakni ajaran dasar dari kyai Dahlan tentang pemberdayaan masyarakat. Bagaimana Muhammadiyah menyikapi persoalan sosial yang ada di masayarakat. Juga membahas teologi mustad’afin dan fikih mustad’afin sebagai tawaran kebaruan.

Pembuka bab IV yang membahas tentang Muhammadiyah dan Politik terasa menjadi kurang relevan, pasalnya kritik penulis pada komposisi kabinet kerja Jokowi-JK yang (seolah) abai pada Muhammadiyah, akhirnya patah. Reshuffle kabinet jilid dua yang dilakukan oleh Jokowi-JK mamasukkan nama Muhajir Efendi sebagai nahkoda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, meski begitu analisa yang dibuat oleh penulis tentang pola hubungan Muhammadiyah, PAN dan pemilu 2014 menemukan jawabannya kembali. Muhammadiyah secara resmi berada di tengah atau netral. Namun, PAN, meski tidak lagi memiliki hubungan sedekat (dulu) dengan Muhammadiyah, telah menjatuhkan pilihan dukungan pada Prabowo-Hatta Rajasa, yang mana Hatta Rajasa adalah ketua umum PAN, walau Hatta tak bisa dibilang sebagai kader Muhammadiyah. Apa pun itu, setelah perhelatan pemilu selesai dan pemerintahan baru telah berjalan, PAN dalam kepemimpinan baru, merapat ke pemerintahan, dan pada akhirnya, kader Muhammadiyah masuk juga dalam kabinet kerja Jokowi-Jk. Menariknya, dalam bab IV ini penulis secara khusus membuat sub bab yang membahas tentang Amin Rais.

Muhammadiyah studies menjadi sorotan tersendiri bagi penulis, dalam bab V misalnya, ia secara khusus menjelaskan konsistensi Mitsuo Nakamura ketika mengkaji Muhammadiyah. Professor dari Universitas Chiba, Jepang, berumur lebih dari 80 tahun, menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengkaji Muhammadiyah. Meski, ada beberapa peneliti yang mengkaji Muhammadiyah, namun sepertinya penulis menaruh simpati lebih banyak pada Prof. Mitsuo Nakamura. Penulis barangkali melihat konsistensi, kegigihan dan semangat yang dimiliki oleh Prof. Mitsuo Nakamura, meski dengan dana terbatas dan sedikit peneliti yang menekuni kajian Islam Indonesia, khususnya Muhammadiyah, ia tetap konsisten dengan kajian yang dipilih.

Bagian terakhir pada buku ini berisi tentang internasionalisasi dan manhaj Muhammadiyah, di dalamnya berisi tujuh sub bab. Din Syamsudin menjadi tonggak awal “gerakan” internasionalisasi Muhammadiyah. Din yang terpilih menjadi ketua umum Muhammadiyah pada tahun 2005, seringkali menjadikan internasionalisasi Muhammadiyah sebagai bahan kajian dan bahasan. Pada masa itu pula banyak berdiri PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) di berbagai negara, seperti Jepang, Vietnam, Amerika, Mesir dan Belanda.

Terakhir sekali pada buku ini, penulis memberikan para pembaca sekalian bonus, dengan melampirkan tulisan-tulisan pendek dari kader Muhammadiyah tentang Muhammadiyah dan berbagai persoalan.

Belajar dari Kyai Rosul dan Kyai DarwisBuku ini penting dibaca oleh siapa pun, bahkan bagi orang di luar Muhammadiyah sekalipun. Buku ini mengajarkan atau setidaknya memperlihatkan sebuah sejarah yang seringkali dinafikan, yaitu sebuah keragaman. Dalam tubuh Muhammadiyah, sebuah organisasi besar, tak terelakkan dalam perbedaan pendapat. Penulis, memperlihatkan sebuah kenyataan tentang Muhammadiyah, sebagai organisasi, Muhammadiyah sangat bergantung pada Kyai Dahlan. Tetapi, pada aturan yang lebih teknis, yaitu pada teologi (fiqih?) pemikiran Kyai Rosul, ayah Buya Hamka, menjadi panutan.

Kedua kyai itu bukan tanpa perdebatan, Kyai Rosul penganut paham puritanis dan Kyai Darwis yang lahir dan besar di jantung budaya Jawa terlihat terbuka dengan budaya-budaya yang masih tercampur dengan praktik agama. Hal itu bisa dilihat saat Kyai Dahlan mempersilakan masyarakat sekitarnya melakukan tahlil untuk ayahandanya ketika meninggal, bahkan pada satu tahapan, saking permisifnya Kyai Dahlan, beliau membolehkan salat menggunakan bahasa Jawa jika seseorang tak paham (tak bisa) bahasa Arab.

Melihat hal itu, keragaman pendapat bukanlah sesuatu yang aneh atau menyimpang. Semuanya bisa berjalan dengan harmoni dengan syarat masing-masing orang atau golongan tidak memaksakan pendapatnya, sebagai pendapat paling benar dan menuntut yang lain untuk ‘mengimani’ pendapat tersebut.

Buku ini bisa menjadi buku pegangan, pengantar untuk kelas ke-Muhammadiyah-an untuk mahasiswa di universitas, mengingat buku ini secara rapih menuturkan bagaiamana Muhammadiyah mengambil peran dalam setiap zaman, persoalan, dan konteksnya. Meski begitu, harus juga ada penambahan materi dan penekanan pada bagian-bagian tertentu dalam buku setebal 215 halaman ini.

Sumbangan Muhammadiyah tidak boleh dianggap sebelah mata, melalui amal usahanya, Muhammadiyah telah membuka lembaga pendidikan dari tingkat paling kecil, taman kanak-kanak, hingga perguruan tinggi. Muhammadiyah juga mendirikan rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan di berbagai pelosok negeri, tidak hanya itu, Muhammadiyah juga meyiapkan professional medis untuk mengisi pos-pos kesehatan di Indonesia. Dan tentunya sumbangan para intelektualnya dalam membangun Indonesia dari rongrongan golongan yang anti Pancasila dan demokrasi yang setiap saat menggerogoti bangsa ini.

 < Sw > Resensi By (Nur Hayati Aidah)